LILITAN TALI PUSAR, HARUSKAH OPERASI?


Pasrah dan Terus Berdoa

Ini cuma sekedar berbagi pengalaman saya saat melahirkan anak pertama kami, Rafly Maheswara pada tanggal 8 November 2009 lalu.

Saat usia kehamilan saya sekitar 6 bulan, sewaktu USG, kondisi bayi saya masih sungsang. Saat itu dokter mengatakan posisi bayi akan bisa berubah saat usia kehamilan 7 bulan. Dirumah saya dan suami terus berdoa agar posisi bayi kami berubah. Suami saya sering berbicara ke janin, yang sudah kami panggil Rafly, agar merubah posisinya sambil mengusap-usap perut saya.

Saat usia kehamilan memasuki 7 bulan, ternyata posisi bayi saya sudah normal. Alhamdulillah, saya senang sekali. Namun, dokter mengatakan kalau bayi kami ada lilitan tali pusar , 2 buah. Waktu itu dokter mengatakan kalau lilitan tali pusar itu masih ada kemungkinan lepas, dan akan dilihat perkembangannya berikutnya. Kami terus berdoa dan berharap agar lilitan tali pusar bisa lepas, karena saya dan suami menginnginkan untuk lahir normal. Karena saya sangat takut dengan yang namanya darah dan alat-alat kedokteran seperti jarum suntik, apalagi pisau bedah.

Saat kehamilan saya sudah 8 bulan, ternyata lilitan tali pusar itu belum juga lepas. Saat itu saya sudah mulai rutin kontrol seminggu sekali. Minggu berikutnya atau saat kehamilan saya menginjak usia 8 bulan lebih seminggu, kami kontrol lagi ke dokter, saat itu tanggal 7 November. Ternyata lilitan tali pusar masih ada.

Sehabis di USG, dokter berbicara dengan kami, beliau menyarankan untuk operasi karena lilitan tali pusar 2 buah dan bayi saya termasuk besar saat dilahirkan nanti. Beliau juga menjelaskan resiko-resiko yang mungkin terjadi kalau melahirkan secara normal. Saat itu perawat yang membantu dokter kandungannya juga menyarankan untuk operasi. Daripada nanti ada resiko leher bayi terikat dengan tali pusarnya, sebaiknya ibu mengikuti saran dokter untuk operasi, karena kalau lilitan telat dilepas, bisa fatal resikonya, begitu saran sang perawat . Dokter akan menjadwalkan operasi sekitar 2 minggu sebelum hari perkiraan lahir. Saat itu HPL-nya tanggal 1 Desember. Jadi masih ada waktu sekitar 23 hari lagi sebelum HPL. Dokter menyuruh kami untuk kembali kontrol minggu depan dan menentukan tanggal operasi.

Saat keluar dari ruangan praktik dokter kandungan yang nyaman itu, saya dan suami rasanya lemas. Saat itu, saya belum mengambil cuti. Saya baru mengajukan cuti tanggal 9 November. Setelah periksa dokter, saya dan suami kembali bekerja. Saat itu , ditempat kerja saya rasanya stress, saya tidak bisa berkonsentrasi untuk bekerja dan hanya bercerita dengan teman-teman tentang kandungan saya. Mereka pun menguatkan dan mengatakan kalau pun harus operasi bukanlah hal yang musti ditakutkan. Ternayat suami juga merasakan hal yang sama dengan saya.

Sepulang kerja, saat itu hari Sabtu, jadi pulang lebih cepat, saya dan suami mampir di pusat perbelanjaan untuk menambah koleksi baju dan persiapan lahiran Rafly. Sampai di rumah, saya rasanya lelah sekali. Walaupun masih takut dengan rencana operasi, tetapi saya dan suami berusaha untuk pasrah.

Jam 7.30 malam, saya sudah tidur. Lalu bangun jam 9 untuk makan malam, dan sehabis itu tidur lagi. Jam 11 malam, saya terbangun karena saya merasa ada sesuatu yang basah seperti pipis tetapi saya tidak merasa ingin pipis. Saya ke kamar mandi, ternyata di kamar mandi makin banyak keluar cairan bening tersebut. Saya mulai curiga jangan-jangan itu adalah air ketuban, karena sebelumnya saya sudah baca-baca artikel kehamilan dan melahirkan di internet.

Kami lalu kerumah sakit sekitar jam 12 malam. Saat diperiksa oleh bidan jaga, ternyata itu adalah air ketuban dan saya sudah buka an 2. Karena sebelumnya dokter sudah rekomendasi untuk operasi, saya lalu disuruh puasa untuk persiapan operasi besok sekitar jam 9 pagi.

Saat itu saya belum merasakan mules atau sakit sedikitpun. Jam 1.30 pagi, saya diantar ke ruang perawatan untuk istirahat. Baru 15 menit disana, saya merasa mules dan frekuensinya makin lama makin cepat. Lalu perawat membawa saya keruang persalinan karena agar saya lebih “leluasa dengan mulesnya” tanpa mengganggu pasien lain.

Rasa mules makin hebat. Dan bukaan saya makin lama makin banyak. Jam 3 pagi , saya sudah bukaan 6. Karena bukaan makin lama makin banyak, jam 4 pagi, saya diputuskan untuk lahir normal dan disuruh minum untuk menambah tenaga.

Setelah berjuang melawan rasa mules, akhirnya jam 6.50 tanggal 8 November 2009, anak kami lahir ke dunia dengan persalinan normal. Dengan bantuan dokter dan perawatan yang sigap dan cekatan, anak kami keluar dengan sehat dan selamat. Saat baru keluar, saya melihat dokter langsung mengunting tali pusar yang melilit di leher Rafly. Rasanya plong sekali, hilang sudah ketakutan ketakutan selama ini. Saya sangat bersyukur sekali, karena baru kemarin dokter memvonis harus operasi, ternyata besoknya Rafly lahir dengan normal.

Terima Kasih Allah, jadikanlah Rafly anak yang soleh dan bisa mewujudkan harapan ayah bundanya, sesuai dengan nama yang kami kasih “ Rafly Maheswara” yang berarti Raja Besar yang Bijaksana. Amiiinnn….

One thought on “LILITAN TALI PUSAR, HARUSKAH OPERASI?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s